13 September 2009

Mencari Jalan Menuju Cahaya

Orang-orang kebingungan mencari cahaya. Berjalan, berlari, kadang juga ada yang mengendap-endap dan melangkah dengan sangat hati-hati dalam kegelapan. Mereka tidak mempunyai cahaya. Mereka sedang mencari cahaya untuk menerangi perjalanannya. Untuk menyinari kehidupannya. Tetapi sungguh mengherankan ketika pada saat yang sama, sebagian besar umat kita justru sedang terlelap di bawah naungan cahaya. Mereka tertidur dengan pulas dan nikmat dalam nuansa bermandikan cahaya, sementara orang lain sedang sibuk mencari cahaya dalam gelap gulita. Dua macam kegelapan yang jelas berbeda.

Umat Islam sedang terlelap dalam tidur panjangnya sehingga mereka tidak menyadari kondisi sekitarnya. Mereka bahkan tidak sadar jika tubuhnya sedang terluka. Lihatlah bumi Islam sedang terkoyak. Berbagai belahan dunia Islam sedang menderita akibat ulah orang-orang kafir durjana. Pembantaian dan penindasan terjadi di setiap titik-titik lemah umat. Sementara pada saat yang sama, orang-orang kafir senantiasa merasuki pemikiran dan melakukan pengaburan bahkan penyesatan terhadap umat ini. Umat Islam tidak berdaya untuk sekedar mempertahankan dirinya, mempertahankan eksistensi kemanusiaannya, apalagi kemuliaan diennya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Adakah yang salah dengan Islam? Al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Islam itu tinggi dan tidak ada yang menyamai ketinggiannya. Namun permasalahannya sekarang bukan Islamnya, tetapi justru umatnya. Lihatlah betapa kemaksiatan dan penyimpangan telah menggerogoti kewibawaan umat, sementara di sisi lain sebagian umat yang ingin bangkit seringkali gagal dalam memahami ruh ajaran Islam. Ini tentunya adalah kondisi yang memprihatinkan. Umat harus segera dibangunkan dari tidur panjangnya. Agar mereka segera melihat cahaya. Agar mereka segera menyadari kondisi diri dan lingkungannya. Sehingga dengan begitu, mereka akan segera bangkit untuk meraih kejayaan seperti dahulu Islam pernah berjaya. Sesungguhnya umat Islam tidak akan berjaya, kecuali apa yang telah membuat berjaya generasi pertamanya.

Dari sini:

28 August 2009

Surat Untuk Istriku: Sirami Bunga Kita Dengan Cinta

Awal bulan depan, genap satu tahun pernikahan kita. Sementara bunga kecil di perutmu sudah mulai mendesak-desak ingin keluar, hmm, tak terasa sebentar lagi bunga itu akan keluar dan menghiasi harum rumah kecil ini. Dik, sungguh aku sudah tidak sabar untuk menciuminya sepuasku hingga tak satupun orang lain kuberikan kesempatan mencium dan memeluknya sebelum aku, ayahnya, bosan menciumnya.

Satu tahun empat bulan yang lalu, aku masih ingat saat datang ke rumahmu untuk berkenalan dengan keluargamu. Takkan pernah hilang dalam ingatanku, betapa kedatanganku yang ditemani beberapa sahabat untuk berkenalan malah berubah menjadi sebuah prosesi yang aku sendiri tidak siap melakukannya, yah, aku melamarmu dik.

Padahal, baru satu minggu sebelum itulah kita berkenalan di rumah salah seorang sahabatmu. Waktu itu, aku tak berani menatap wajahmu meski ingin sekali aku beranikan diri untuk mengangkat wajahku dan segera menatapmu. Tapi, entah magnet apa yang membuatku terus tertunduk. Kenakalanku selama ini ternyata tidak berarti apa-apa dihadapanmu, kurasakan sebuah gunung besar bertengger tepat di atas kepalaku dan membuatku terus tertunduk.

27 August 2009

Mau Taraweh Apa Mejeng Seeeeh...?

Ini cerita "djaman moeda doeloe". Waktu belum jadi ikhwan seperti sekarang. Uups, sekarang juga nggak ikhwan beneran sih. Tapi setidaknya berusaha menjadi ikhwan sejati. Ihiks...

Cerita waktu masih di kampung halaman, Pontianak. Kota khatulistiwa yang panasnya bisa bikin item badan.

Dekat rumah orang tua ada 2 mesjid terdekat. Nama mesjidnya Al-Manar, dan satunya lagi adalah Babussalam. Kalau di Al-Manar, jalan menuju ke sananya itu jalan besar. Mesjidnya pun bagus, dekat dengan lingkungan perumahan dan perkantoran. Nggak heran pada banyak yang taraweh di sana. Termasuklah yang muda-muda seperti saya. Taraweh di Al-Manar ini singkat, cuma 8 rakaat, plus 3 rakaat witir. Sebelumnya tentu saja sholat Isha' berjamaah.

Sebagaimana yang lainnya, dengan terengah-engah --setelah makan es kelapa, es cincau, es cendol, nasi sepiring penuh, dan segala macam juadah ludes di perut-- saya pun berangkat ke mesjid. Oalah, ini buka puasa apa dendam ya?

Ih, pasti ada yang nyengir lebar. Ngaku aja deh, kalo yang nyengir juga begitu kan?